‘Sudah nyaman kan, duduknya?’
Saya bengong.
Terakhir kali mendengar orang berkata seperti itu kepada orang lain yang hendak makan adalah di film Rumah Dara. Ibu Dara bertanya mereka sudah nyaman belum kepada tamunya, dan tamunya berakhir di mutilasi. Setengah berharap saya tidak dimutilasi, saya berkata :
‘Iya, nyaman Mbak, Hehe.’
‘Silakan pesanannya,’ kata si Mbak yang kebaikan itu.
‘Hmmm saya pesen ini,’ kata saya menyebut sebuah nama makanan.
‘Pilihan yang tepat sekali!’ kata Mbak-Mbaknya.
Hening.
‘Terus, saya juga mesen ini,’ lanjut saya.
‘Pilihan yang tepat sekali!’ kata Mbak-mbaknya, lagi.
‘Saya juga minumnya air putih aja.’
‘Pilihan yang tepat sekali!’
Kembali hening.
Nampaknya apa pun yang saya katakan selalu disamber dengan respon yang sama dengan nada bicara yang sama. Untung saya tidak bilang, ‘Saya mau menghamili Mbak!’ dan dia bilang, ‘Pilihan yang tepat sekali!’
Setelah memesan, dia lalu berkata, ‘Boleh saya angkat menunya?’
‘Boleh.’
Dia lalu mengangkat menunya. Dia lalu bertanya lagi ke saya, ‘Boleh saya tinggalkan?’
‘Boleh.’
Kalau dilanjutkan, saya berpikir dia akan bertanya, ‘Boleh saya menggerakkan kaki kanan saya? Boleh saya napas? Boleh saya berhenti ngomong boleh?’
Si Mbak lalu melanjutkan dengan berkata, ‘Namanya A, dan kalau ada ada-apa tinggal panggil saya saja.’ Dia lalu pergi. Sungguh mbak-mbak yang sok berani, kalau ada perampokan di restoran ini dan saya panggil dia, palingan juga dia ngibrit.
Setelah si Mbak-Mbak tersebut pergi, saya jadi kepikiran. Ternyata sebuah hal yang diniatkan jadi baik, seperti yang mbak-mbak tersebut lakukan, malah berakhir jadi nyeremin. Sorot matanya, pertanyaan-pertanyaan mbak-mbak tersebut jadi terdengar seperti robot yang sudah diprogram untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu. Maka, next time kalian, terutama cowok-cowok pergi sama cewek, jangan baik-baik amat juga deh. Jangan-jangan si cewek malah jadi serem daripada tersanjung.
sumber:radityadika

0 komentar:
Posting Komentar